Quantcast
Showing posts with label Education information. Show all posts
Showing posts with label Education information. Show all posts

Website yang bisa membuat anda pintar

 Website yang bisa membuat anda pintar

di masa sekarang sungguh menakjubkan, ada internet deng jutaan situs yang bisa membuat anda pintar dalam segala hal. berikut ini adalah situs-situs yang bisa anda kunjungi dan saya jamin anda akan bertambah pintar.


Jika Anda seorang penggemar TED Talks, ini pada dasarnya adalah TED Talks dari dunia perguruan tinggi. Dengan webinar dan perpustakaan besar webinar masa lalu dan video pendidikan lainnya, Anda tidak perlu kemana-mana untuk belajar segala hal, semua ada dikampus website ini.anda dapat bertambah pintar dengan banyak mempelajari semua yang ada situs tersebut.



Kelas disiarkan secara langsung. Beberapa biaya, yang lain bebas, tapi semua layak menonton! Ini bukan kelas rata-rata baik, mereka kelas nyata praktis yang akan memberikan keterampilan nyata digunakan. (Bahkan ada bagian untuk mereka yang mencari untuk membuat lebih banyak uang!)





Bisa dibilang salah satu platform yang paling terkenal dan paling didukung untuk belajar bahasa asing. Dengan panduan sederhana langkah-demi-langkah interaktif belajar bahasa lain, Anda akan berbicara bahasa baru di benar-benar tidak ada waktu!



Jadi Anda selalu ingin menarik, tetapi tidak pernah tahu di mana untuk memulai? Drawspace sini untuk menyelamatkan Anda, dan membuat Anda mengungkapkan dalam format artistik yang selalu Anda inginkan! Mudah, komprehensif, panduan yang akan membuat Anda menggambar dalam hitungan detik.






diatas adalah situs yang bisa membuat anda pintar, selamat mencoba.

apa psikologi pendidikan itu?


PSIKOLOGI PENDIDIKAN


A.     Pendahuluan
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

B.     Mendorong Tindakan Belajar

             Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.
Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan  informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.
Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.
Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.
Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

1.   Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.
Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.
Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.
Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2.   Faktor Psikologis

     Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar      
     jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara
     terpisah.
Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

2.1.   Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.
Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

2.2.  Pengamatan
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.
Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

2.3.  Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima  kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.
Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.
Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.
Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.
Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

2.4.  Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

2.5.  Motif
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.
Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.

sumber: http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm

Education tips for you children,your lovely one


An old saying from Germany said, "We can do anything with the kids, only when we play with them."

Child's world is a world full of imagination, so it is not surprising that many education experts who teach the methods of fun learning and playing while learning.

Just as in the case of young mothers. At the beginning of the mother to give support in the form of gifts, perhaps once a child's mother was found a new game that challenges to conquer. But in a way, it is not impossible, if he finds a boring routine for him so easily distracted by his friends.

Unfortunately, there are a lot of data that we have not understood from the case of the mother, such as for example, whether there is agreement schedule for children to learn and play, whether he studied in its own special place or in a place that is easy to get distracted, and so forth. However, some of these tips we're trying to ask:

1. Grow your self-esteem regardless of the outcome studies.

One factor that can reduce the interest of the child to achieve good performance is the lack of confidence. It arises because whatever the outcome, the edges are the pressure (to maintain the achievements so that children become stressed) or disapproval (to improve performance so that the child becomes too stressful). Each individual has different ways in dealing with stressful situations, but among the various ways that, in fact only be divided in two forms, namely "Fight (face) or flight (run). Therefore, encouraging the child with words like "mother's brother believes could", "believe that younger women can be trusted to be responsible" and so on, is one method of motivation that is able to attach emotional bonds children and parents.

2. Schedule mutually agreed

Invite children to learn together to agree on a schedule to train the child to practice responsibility. In addition, the mother was also easier to provide supervision so that children did not feel always being chased by an obligation to learn.

3. Time to play

Useful for scheduling with release of children in determining playing time he likes. That way, children will learn the discipline of doing his duty as well as relaxed because he knows that he can play your heart in the hours agreed

4. A special place to learn and quiet

As much as possible, if indeed the condition can be adjusted, ie the child has a special place to learn with as little disruption as possible (as close to the television and so on). It also trains the child to concentrate fully for hours of learning

5. Mentoring is fun

There are times when the child difficulty doing certain problems. In most cases, the parents leave the task of this assistance to the tutor or other people. This could potentially lead to pessimism in children that the parents themselves do not afford. Giving gifts is one method for growing desire of children, however, be less effective when children are under pressure to get the prize. Therefore, parents need to occasionally take the time to accompany children in fun and without pressure, so the children comfortable and trusting of their parents.

Some tips to try so we asked. If there is information that the mother wants to convey, we will be happy to discuss with the mother.

May be useful! ^ _ ^

.........................................................................................................................

Title: Education tips for you children,your lovely one
under archives : Education tips for you children,your lovely one, our lovely children, baby, kids
Tag:  Education tips for you children,your lovely one, our lovely children, baby, kids, trauma, phobia
Category: Education tips for you children,your lovely one,our lovely children, baby, kids, trauma, phobia
wid-web.blogspot.com post Education tips for you children,your lovely one



your child SHY with MEET NEW PEOPLE


your child SHY with MEET NEW PEOPLE

When a visitor comes, Dita just peeking out from behind the curtain. When Mom told him to go out and get acquainted, Dita shook his head. But when the guests had gone home, then your child will asking so many thing, variety of questions out of her tiny mouth. "who had his name, Mother? Beautiful yes, Mam? His home, Mam? Why carry a big bag, Mam?

The embarrassment of actually appears as a picture of children have started to recognize her strengths and weaknesses. The term psychological self-understanding or understanding of oneself. Usually it starts at the age of about one and a half years. For example, the child already knows her hair curly or straight, thin or fat body. Now enter the age of three, along with the development way of thinking, the child was unconscious when other people can assess themselves in a certain way.

As a first step is to train it dared to create conditions so that children often meet other people. Introduce early socialization. For parents who are busy working, take advantage of the holiday to stimulate the socialization of the child. When going invitation for example, encourage your child to participate. There he will see and meet many people, he got to know the crowd. Remember also that caregivers do not brood of children at home all day. Occasionally take the child away to public places like parks not far from home, or accompany him to play with neighborhood children.

Giving children the freedom to make decisions may also establish its identity. Since the age of three years of his confidence is growing that he felt able to do all by yourself. At that time, his ego began to emerge. He knows what to do and what not, until finally he can form a concept of self is intact. When children feel they can do many things, the concept itself will be positive. Conversely, if he was often attacked by the negative things the child will be hard to believe myself.

The child who was always embarrassed to talk with others, it could be because he was often heard words like, "do do so at Uncle and Aunt, it's not good. It's not polite. "Alternatively, a response like," the child do not shout so, too lordly, noisy! "Be careful, this could also make a child ashamed to be singing voice. Well, so, parents also need to pay attention to his words for ya baby ..
........................................................................................................

Title: your child SHY with MEET NEW PEOPLE
under archives : your child SHY with MEET NEW PEOPLE, lovely children, baby, kids
Tag:  your child SHY with MEET NEW PEOPLE, lovely children, baby, kids, trauma, phobia
Category: your child SHY with MEET NEW PEOPLE, lovely children, baby, kids, trauma, phobia
wid-web.blogspot.com post your child SHY with MEET NEW PEOPLE, lovely children, baby, kids


Baby's Independence knows Their parents works



"Child's independence does not depend on age. it will come along alone. independence formed by  education and receiving  habit from his parents since early childhood. Independence is a process that takes time and must be continuously trained."


Adam (12 months) every day left father and mother work. At best he is fussy for a while when his parents leave off, perhaps because they still want to indulge, but after that, Rio as usual again.

Ordinary children's parents left early because of work will be used to meet their own needs and learn to find their own activity. Plus, they become accustomed to holding responsibility.

Leaving children alone at home with caregivers, especially for under one year of age, there are advantages and disadvantages. The surplus, the children become independent and responsible learning fast. He could find out what they need and how to fulfill it. Of note, the caregiver had been given a corridor or restriction by a parent, what can and can not do the child. In this case, there should be a solid partnership between caregivers and parents.

While flawed, the safety of children is at stake. For this reason the need to have a clear understanding of the origin and character of the sitter. How does he approach to the child, and how he handles the problem child.
Many times a child has an imagination as creepy monsters, demons, or animals. However, all such fears can be reduced as long as the child is trained to be brave and think rationally.
For example, if there is something strange sounds or looks suspicious, do not be frightened child. Invite your child to find the source of the sound. Thus, the child knows all sorts of sounds. He's so fast no fear when they hear the sounds that have never heard.

Before leaving the child, parents should make special preparations. For example, to provide enough food for a child left alone. Change of clothes after a bath, and other purposes. Leave well as important phone numbers to call at any time by the caregiver if anything happens.

During the abandoned child, parents should have prepared a number of constructive activities so that children can keep busy so he does not feel lonely. For example, if a child is interested in looking at the picture, can provide a wide range of reading material or a new magazine that has never read a child. Ask the caregiver to tells about  story. But do not choose a spooky story and tense. Later the child instead of fear.

If the child is old enough, he could play his favorite toys such as PlayStation or computer. Provided that the toy was already plugged in, the child lived just push the button. Meanwhile, if the children were aged 4-7 years, he could make a game like wax or dye.

Safety is a priority issue. Therefore, if the matter outside is finished, get home so that children are not too long with her nanny at home.